14 Mar

Board Game Indonesia Punya Konten yang Kuat untuk Mendunia

Kontingen Indonesia mendapat kehormatan untuk melangsungkan talkshow di pameran London Book Fair (LBF) 2019.

Bertajuk Playing the Game, talkshow ini membahas perkembangan industri board game di Indonesia bersama Ketua Umum Asosiasi Pegiat Industri Board Game Indonesia (APIBGI), Andre Dubari; Founder Hompimpa Games dan Boardgame Library Solo, Erwin Skripsiadi; serta perancang board game Mahardika dan Smong, Rio Fredericco.

Dalam talkshow tersebut disinggung perkembangan industri board game di Indonesia yang sangat menarik karena industrinya tumbuh secara signifikan, walaupun sebenarnya industri ini sebelumnya belum pernah digarap di negeri ini. Pendekatan board game Indonesia dengan mengangkat konten budaya juga menjadi unik. Moderator pun akhirnya mengajukan beberapa pertanyaan kepada para narasumber.

Dari kiri: Rio, Erwin, Andre, Moderator

Mengapa mengembangkan industri boardgame di Indonesia?

Andre: Karena kita ingin menghadirkan ruang bermain yang sehat untuk seluruh keluarga.

Bagaimana menyeimbangkan konten Indonesia dan upaya untuk menghasilkan profit?

Erwin: Tidak ada masalah karena konten Indonesia terbukti cukup bisa diterima di berbagai market.

Mengapa mengangkat tema tsunami (Board game Smong) – apakah ini memang jadi salah satu nilai yang ingin diangkat.

Rio: Pada dasarnya kami percaya bahwa jika kita mampu mengangkat nilai yang baik, maka game kita juga akan bernilai.

Rio: (mencontohkan board game Aquatico) Aquatico menjadi salah satu bentuk hasil kolaborasi dan bagaimana kita mengoptimalkan game untuk mengangkat sebuah isu (kompleks) menjadi lebih menarik dan mudah dipahami.

Andre: (membahas berbagai aspek terkait cross media) Adaptasi komik menjadi game dengan contoh ghosty (Lelang Mania card game) untuk menunjukkan bahwa banyak potensi yang bisa dioptimalkan di Industri boardgame.

Suasana talkshow

Di Inggris game umumnya bicara digital, kenapa board game?

Andre: Kami tidak membedakan analog maupun digital tapi kami melihat potensi industri game yang semakin besar. Kita juga melihat potensi optimasi digital, teknologi ada untuk menambahkan konten lebih ke dalam game.

Apa yang melandasi dibentuknya boardgame library?

Erwin: Supaya lebih banyak orang bisa mengakses konten-konten Indonesia dan menyediakan media permainan yang bisa menyatukan seluruh keluarga.

Seluruh pembicara sepakat bahwa boardgame Indonesia adalah salah satu media untuk bisa mengutarakan berbagai konten Indonesia keseluruh dunia.

Menarik ya sesi bincang-bincangnya. Semoga dengan hadirnya board game Indonesia di London Book Fair, makin banyak mata yang melihat dan hati yang percaya board game bisa dimanfaatkan untuk membawa perubahan yang lebih baik.

Tahun ini LBF menunjuk Indonesia sebagai Market Focus Country, sebuah sebutan untuk negara yang terpilih menjadi tamu kehormatan. LBF masih berlangsung hingga 14 Maret 2019 di Olympia, London – Inggris.

Adapun agenda tanggal 15 Maret, para pegiat board game Indonesia yang terdiri dari penerbit, perancang dan pemilik board game cafe akan mengadakan sesi bermain board game di Draughts Waterloo (board game cafe).

Jika kamu punya kolega atau rekan yang sedang berada di London, ajak mereka untuk datang dan mengunjungi paviliun Indonesia di pameran atau ikuti sesi bermain board game Indonesia di Draughts Waterloo dengan mendaftarakan diri lewat tautan berikut: Registrasi Indonesian board game session.

(disadur dari artikel Boardgame.id: https://boardgame.id/board-game-indonesia-konten-kuat/)

21 Feb

Ramai! 55 Board Game di Gamebox 3.0 Sukses Pukau Warga Salatiga

Salatiga – tepat di akhir minggu lalu, teman-teman DKV Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar acara Gamebox Exhibition 3.0. Menyasar kalangan keluarga, acara ini mengajak pengunjung bermain aneka board game hasil karya dosen dan mahasiswa.

Gamebox
ramainya acara Gamebox Exhibition 3.0

Di tahun ketiga ini, Kedai Kopi dipilih sebagai tema utama. Suasana santai dan ramah ala kedai kopi pun sangat terasa sepanjang acara. Berlokasi di Perpusda Salatiga, acara berlangsung sejak pukul 10 pagi hingga 3 sore, selama tiga hari berturut-turut sejak hari Jumat (15/02) hingga Minggu (17/02).

Baca Juga: Hebat! Penelitian Board Game Ini Juarai PKM Tingkat Universitas di Salatiga

Menariknya, antrian pengunjung yang penasaran dan ingin mencoba board game ini langsung terasa sejak pagi. Meja-meja dan tempat lesehan untuk bermain pun langsung penuh. Bahkan beberapa datang dari daerah lain seperti Kudus, Pekalongan, hingga Semarang.

Keluarga bermain Tepok Aksara

Arie Setiawan, salah satu pelaksana acara menjelaskan tentang kegiatan tahunan kampus ini. “Tahun ini ada 55 board game karya mahasiswa dan dosen. Ada yang masih berupa prototype, sampai yang pernah jadi juara lomba bisa dicoba di sini.” ujarnya.

Ya, sebagian judul board game memang sudah pernah ditampilkan di Gamebox tahun lalu. Sebut saja Tepok Aksara, Tale of Pela Gandong, dan Mie Ayam. Selain itu ada juga Diet Panda, Karunagan, Batik Shop, Battle of Biji Karet, dan masih banyak lagi.

Setelah melihat dan mencoba, rupanya tak jarang ada pemain yang hatinya ‘tertambat’ dan ingin membawa pulang game tersebut. “Banyak dari pengunjung yang memesan judul-judul yang dipamerkan, untuk dimainkan lagi bersama keluarga.” jawab dosen UKSW ini.

Selain menjajal board game, ada juga sesi talkshow yang membahas board game sebagai media edukasi keluarga. Mengundang Erwin J. Skripsiadi dari Hompimpa Games, serta desainer muda Allez M. Tangidy sebagai narasumber, diskusi ini pun cukup mendapat perhatian banyak audiens.

Nah, itu tadi keseruan warga Salatiga bermain board game dalam acara Gamebox 3.0. Sukses terus ya UKSW Salatiga, ditunggu acara menarik berikutnya!

(disadur dari boardgame.id: http://boardgame.id/reportasi-gamebox-exhibition-3-0/)

16 Jan

Festival Belajar Main Buktikan Game Bisa Dijadikan Alat untuk Pembelajaran

Banyak guru dan orang tua yang heran, mengapa saat belajar anak kok males-malesan dan tidak semangat namun ketika bermain mereka jadi girang dan fokus. Jadi apakah belajar semembosankan itu?

Ludenara, sebuah organisasi non-profit, punya cara untuk mengubah stigma tersebut. Kalau belajar itu membosankan bagi anak tapi tidak saat bermain, kenapa tidak membuat suasana belajar yang menyenangkan seperti waktu bermain?

Sesi talkshow | Foto: Boardgame.id

Akhir pekan kemarin, Ludenara baru saja menyelenggarakan sebuah acara bertajuk Festival Belajar Main (FBM). Acara yang ditujukan untuk guru, orang tua dan aktivis di bidang pendidikan ini rupanya berhasil menarik sekitar 80 peserta.

FBM ingin menunjukkan ternyata game bukanlah hal yang negatif dan justru bisa mendorong kegiatan belajar-mengajar menjadi lebih seru. Hal yang pertama dilakukan adalah mengajak para guru dan orang tua tersebut bermain. Hanya dengan ikut bermainlah mereka akan merasakan manfaatnya.

Galeri Resep Main | Foto: Boardgame.id


Di festival ini pula para peserta diberi resep bagaimana menjadikan game untuk pembelajaran. Acara yang terselenggara selama dua hari dari tanggal 12-13 Januari 2019 kemarin mengambil tempat di SD Gagas Ceria Bandung.

Pada hari pertama, acara dimulai dari jam 9 pagi. Peserta disajikan talkshow yang membahas apakah bermain dan belajar adalah aktivitas yang sejalan. Selanjutnya ada sesi Galeri Resep Main.

Sesi ini mengajak peserta untuk berbagi pengalaman bagaimana ia menyuntikkan game dalam sesi belajar di kelas atau di rumah. Rupanya sudah ada beberapa yang mengimplementasikan hal tersebut.

Selanjutnya ada sesi Kelas Belajar Main. Pada sesi ini para peserta menjadi murid yang belajar bermain menggunakan game-game yang sudah disiapkan panitia.

Ada dua tema besar dalam kelas ini: Kelas Sustainability dan Character Building. Kelas tersebut mengajarkan, sebuah proses yang mungkin dampaknya baru bisa dirasakan dalam jangka waktu yang lama bisa langsung tersimulasi jika lewat game.

Kelas Belajar Main: Akatara | Foto: Boardgame.id

Contohnya seperti dalam Kelas Zakuma. Jika banyak individu yang berzakat, akan lahir pula individu lain yang akan turut melakukan zakat. Efek seperti ini tentu tidak bisa dirasakan langsung di dunia nyata, tapi langsung dirasakan saat bermain game yang dikembangkan oleh Badan Amil Zakat Nasional ini (Baznas).

Selain Baznas, banyak pula organisasi yang turut berkontribusi mengisi Kelas Belajar Main. Penyuluh Antikorupsi membawa permainan Terajana untuk mengajarkan integritas dan kejujuran, lalu melawan radikalisme dengan Galaxy Obscurio yang lahir dari program Board Game for Peace besutan Peace Generation.

(disadur dari Boardgame.id: http://boardgame.id/belajar-main-untuk-pembelajaran/)



24 Dec

Manikmaya Games dan Perusahaan Asal Amerika Serikat Pasarkan Game Timun Mas

TRIBUNJATENG.COM, ESSEN – Booth Archipelageek di ajang pameran board game internasional, Essen Spiel 2018, menjadi lokasi bersejarah bagi industri board game Indonesia.

Di booth tersebut penerbit game asal Indonesia Manikmaya Games melakukan penandatangan nota kesepahaman kerjasama lisensi dengan Blue Orange Games, penerbit board game internasional.

Kerjasama ini dilakukan dalam rangka menerbitkan game dari Manikmaya Games yang mengangkat tema dongeng Timun Mas.

“Tahun lalu kami bertemu dengan Eko Nugroho, CEO Manikmaya Games, dan kami tertarik dengan game itu. Bukan hanya pada gameplay-nya, tapi juga pada latar ceritanya,” kata Thierry Denoual, CEO dan Cofounder Blue Orange Games.

Blue Orange adalah penerbit game kelas dunia.

Game terbitan mereka dijual di lebih dari 80 negara di seluruh dunia.

Thierry mengatakan game Timun Mas pun nantinya akan dihadirkan di negara-negara tersebut.

Eko Nugroho, CEO Manikmaya Games, mengatakan pembicaraan dengan Blue Orange sudah dirintis sejak empat tahun lalu.

Proses sampai akhirnya mereka percaya pada game Timun Mas adalah proses yang cukup panjang.

Joshua Puji Mulia Simandjuntak, Deputi Pemasaran BEKRAF, berpendapat bahwa langkah tersebut amat baik bagi  industri board game Indonesia.

“Ini langkah pertama untuk board game Indonesia masuk ke pasar global. Kami berharap hal ini bisa menginspirasi pencipta board game di Indonesia, untuk melihat bahwa board game Indonesia punya kualitas masuk di pasar global,” ujarnya.

Joshua juga mengatakan, pencipta board game Indonesia harus percaya diri untuk mengangkat konten asli Indonesia ke dalam board game.

Karena, menurutnya dunia selalu mencari sesuatu yang berbeda.

“Pencipta boardgame Indonesia beruntung ada di Indonesia. Anda lahir di negeri dengan budaya yang bisa memberikan ribuan inspirasi, tinggal bagaimana Anda membawa inspirasi ini jadi sesuatu yang mendunia,” tuturnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Manikmaya Games dan Perusahaan Asal Amerika Serikat Pasarkan Game Timun Mas, http://jateng.tribunnews.com/2018/10/28/manikmaya-games-dan-perusahaan-asal-amerika-serikat-pasarkan-game-timun-mas.

06 Dec

Boardgame Internasional Essen Spiel 2018 kenalkan Timun Emas di Ajang Bergengsi

Berita360.com, Jakarta – Booth Archipelageek di ajang pameran board game internasional, Essen Spiel 2018, menjadi lokasi bersejarah bagi industri board game Indonesia. Di booth tersebut penerbit game asal Indonesia Manikmaya Games melakukan penandatangan nota kesepahaman kerjasama lisensi dengan Blue Orange Games, penerbit board game internasional.

Boardgame Internasional Essen Spiel 2018 kenalkan Timun Emas di Ajang bergensi

Board game internasional, Essen Spiel 2018. (Foto Sonny/Berita360).

Kerjasama ini dilakukan dalam rangka menerbitkan game dari Manikmaya yang mengangkat tema dongeng Timun Mas. “Tahun lalu kami bertemu dengan Eko Nugroho, CEO Manikmaya, dan kami tertarik dengan game itu. Bukan hanya pada gameplay-nya, tapi juga pada latar ceritanya,” kata Thierry Denoual, CEO dan Cofounder Blue Orange Games.

Blue Orange adalah penerbit game kelas dunia. Game terbitan mereka dijual di lebih dari 80 negara di seluruh dunia. Thierry mengatakan game Timun Mas pun nantinya akan dihadirkan di negara-negara tersebut.

Eko Nugroho, CEO Manikmaya Games, mengatakan pembicaraan dengan Blue Orange sudah dirintis sejak empat tahun lalu. Proses sampai akhirnya mereka percaya pada game Timun Mas adalah proses yang cukup panjang.

Joshua Puji Mulia Simandjuntak, Deputi Pemasaran BEKRAF, berpendapat bahwa langkah tersebut amat baik bagi industri board game Indonesia. “Ini langkah pertama untuk board game Indonesia masuk ke pasar global. Kami berharap hal ini bisa menginspirasi pencipta board game di Indonesia, untuk melihat bahwa board game Indonesia punya kualitas masuk di pasar global,” ujarnya.

Joshua juga mengatakan, pencipta board game Indonesia harus percaya diri untuk mengangkat konten asli Indonesia ke dalam board game. Karena, menurutnya dunia selalu mencari sesuatu yang berbeda.

“Pencipta boardgame Indonesia beruntung ada di Indonesia. Anda lahir di negeri dengan budaya yang bisa memberikan ribuan inspirasi, tinggal bagaimana Anda membawa inspirasi ini jadi sesuatu yang mendunia,” tuturnya.

Booth Archipelageek di Essen Spiel 2018 berlokasi di Hall 3, Q-106. Booth berukuran 66 m2 ini menghadirkan 24 judul game dari 7 penerbit asli Indonesia. Delapan dari judul itu dikedepankan sebagai unggulan di bawah label Indonesia Select, yaitu: Aquatico, Mahapatha, Mahardika, Orang Rimba, Smong, The Festivals, The Art of Batik dan Waroong Wars.

Penulis : Sonny Eko Kusetyawan.
Editor : Tim Red/Berita360.com.

(disadur dari Berita360.com; http://berita360.com/boardgame-internasional-essen-spiel-2018-kenalkan-timun-emas-di-ajang-bergensi/)

29 Nov

Sejarah Industri Board Game Indonesia Dimulai di Jerman

industri board game Indonesia

Sejarah bagi industri board game Indonesia (foto : Bekraf)

STARJOGJA.COM, JERMAN – Booth Archipelageek di ajang pameran board game internasional, Essen Spiel 2018, menjadi lokasi bersejarah bagi industri board game Indonesia. Di booth tersebut penerbit game asal Indonesia Manikmaya Games melakukan penandatangan nota kesepahaman kerjasama lisensi dengan Blue Orange Games, penerbit board game internasional.

Kerjasama ini dilakukan dalam rangka menerbitkan game dari Manikmaya yang mengangkat tema dongeng Timun Mas.

“Tahun lalu kami bertemu dengan Eko Nugroho, CEO Manikmaya, dan kami tertarik dengan game itu. Bukan hanya pada gameplay-nya, tapi juga pada latar ceritanya,” kata Thierry Denoual, CEO dan Cofounder Blue Orange Games.

Blue Orange adalah penerbit game kelas dunia. Game terbitan mereka dijual di lebih dari 80 negara di seluruh dunia. Thierry mengatakan game Timun Mas pun nantinya akan dihadirkan di negara-negara tersebut.

Eko Nugroho, CEO Manikmaya Games, mengatakan pembicaraan dengan Blue Orange sudah dirintis sejak empat tahun lalu. Proses sampai akhirnya mereka percaya pada game Timun Mas adalah proses yang cukup panjang.

Joshua Puji Mulia Simandjuntak, Deputi Pemasaran BEKRAF, berpendapat bahwa langkah tersebut amat baik bagi industri board game Indonesia.

“Ini langkah pertama untuk board game Indonesia masuk ke pasar global. Kami berharap hal ini bisa menginspirasi pencipta board game di Indonesia, untuk melihat bahwa board game Indonesia punya kualitas masuk di pasar global,” ujarnya.

Joshua juga mengatakan, pencipta board game Indonesia harus percaya diri untuk mengangkat konten asli Indonesia ke dalam board game. Karena, menurutnya dunia selalu mencari sesuatu yang berbeda.

“Pencipta boardgame Indonesia beruntung ada di Indonesia. Anda lahir di negeri dengan budaya yang bisa memberikan ribuan inspirasi, tinggal bagaimana Anda membawa inspirasi ini jadi sesuatu yang mendunia,” tuturnya.

Booth Archipelageek di Essen Spiel 2018 berlokasi di Hall 3, Q-106. Booth berukuran 66 m2 ini menghadirkan 24 judul game dari 7 penerbit asli Indonesia. Delapan dari judul itu dikedepankan sebagai unggulan di bawah label Indonesia Select, yaitu: Aquatico, Mahapatha, Mahardika, Orang Rimba, Smong, The Festivals, The Art of Batik dan Waroong Wars.

27 Nov

Board Game Cerita Asli Indonesia ‘Timun Mas’ Dilirik Perusahaan Perancis

SIAR.Com — Pernah dengar cerita ‘Buto Ijo dan Timun Mas’? Legenda asli Indonesia asal Jawa Tengah itu menjadi permainan menarik ketika diwujudkan dalam board game oleh studio Manikmaya.

Kini board game ‘Buto Ijo dan Timun Mas’ tersebut menjadi salah satu permainan asal Indonesia yang dilirik dan hak ciptanya dibeli perusahaan permainan internasional asal Perancis, Blue Orange, di pameran permainan Spiel Messe 2018 yang berlangsung di kota Essen, Jerman.

Menurut perwakilan Blue Orange, Thierry Denoual, saat ini tema board game tengah jenuh dengan zombie, kerajaan abad pertengahan, bajak laut dan petualangan ala Indiana Jones. “Buto Ijo dan Timun Mas yang diambil dari cerita rakyat negeri yang jauh, menjadi angin segar pada board game yang beredar di pasar internasional,” katanya.

“Ceritanya menarik, mekanisme permainannya baik, sehingga dapat dimainkan bersama keluarga. Para kurator kami sangat menikmati permainannya,” sambung Denoual.

Keberhasilan studio Manikmaya menggaet Blue Orange tak mudah. “Tahun 2014 saya dan teman teman ikut, tapi dapat tempatnya di hall ujung tempat para Indies dan booth kami sangat kecil ukurannya,” ujar CEO studio Manikmaya, Eko Nugroho.

Meski demikian, hal itu tak membuat semangat Eko dan rekan-rekannya patah semangat. Mereka dengan gigih terus berusaha memperkenalkan board game yang terinspirasi dari budaya Indonesia serta membangun jaringan dengan para pengusaha, kurator, game geeks serta para game blogger.

Board Game Buto Ijo dan Timun Mas (sumber foto DW)

Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) ikut mendukung upaya mereka dengan menghadirkan paviliun Indonesia berjudul Archipelageek di pameran tersebut. Di paviliun Indonesia, Archipelageek, Bekraf membawa tujuh studio game termasuk studio Manikmaya. Mereka memperkenalkan 24 permainan board game terbarunya.

Di area yang sama, paviliun Indonesia bersanding dengan stand perusahaan raksasa dunia seperti Hasbro (pemegang hak cipta permainan board game klasik Monopoly), Haba dan Ravensburger (perusahaan game board dan puzzle asal Jerman)

“Kualitas board game Indonesia tidak kalah bagusnya dengan board game lain yang ada di pameran Spiel Messe ini, sehingga Bekraf mendukung studio game board yang tergabung dalam Asosiasi Pegiat Industri Board Game Indonesia untuk hadir di Jerman,” ujar Deputy Pemasaran Bekraf, Joshua Simanjuntak.

Permainan papan tak sekadar rekreasi, kata CEO Manikmaya Eko Nugroho. Media ini juga dapat berfungsi sebagai ajang pendidikan dan informasi. Bila board game dimainkan setidaknya sekali seminggu dalam keluarga, maka anak-anak akan lebih mengenal cerita rakyat, belajar bersikap adil dan sportif serta merekatkan hubungan dalam keluarga. (Dari berbagai sumber/Joko Susilo)

(disadur dari Siar: https://siar.com/board-game-cerita-asli-indonesia-timun-mas-dilirik-perusahaan-perancis/)

19 Nov

Dongeng “Timun Emas” Mendunia Melalui Board Game, BEKRAF Aktif Mendorong Board Game Indonesia Mendunia

PROGRES.ID, JERMAN – Booth Archipelageek di ajang pameran board game internasional, Essen Spiel 2018, menjadi lokasi bersejarah bagi industri board game Indonesia. Di booth tersebut penerbit game asal Indonesia Manikmaya Games melakukan penandatangan nota kesepahaman kerjasama lisensi dengan Blue Orange Games, penerbit board game internasional.

Kerjasama ini dilakukan dalam rangka menerbitkan game dari Manikmaya yang mengangkat tema dongeng Timun Mas.

“Tahun lalu kami bertemu dengan Eko Nugroho, CEO Manikmaya, dan kami tertarik dengan game itu. Bukan hanya pada gameplay-nya, tapi juga pada latar ceritanya,” kata Thierry Denoual, CEO dan Cofounder Blue Orange Games.

Blue Orange adalah penerbit game kelas dunia. Game terbitan mereka dijual di lebih dari 80 negara di seluruh dunia. Thierry mengatakan game Timun Mas pun nantinya akan dihadirkan di negara-negara tersebut.

Eko Nugroho, CEO Manikmaya Games, mengatakan pembicaraan dengan Blue Orange sudah dirintis sejak empat tahun lalu. Proses sampai akhirnya mereka percaya pada game Timun Mas adalah proses yang cukup panjang.

Joshua Puji Mulia Simandjuntak, Deputi Pemasaran BEKRAF, berpendapat bahwa langkah tersebut amat baik bagi industri board game Indonesia.

“Ini langkah pertama untuk board game Indonesia masuk ke pasar global. Kami berharap hal ini bisa menginspirasi pencipta board game di Indonesia, untuk melihat bahwa board game Indonesia punya kualitas masuk di pasar global,” ujarnya.

Joshua juga mengatakan, pencipta board game Indonesia harus percaya diri untuk mengangkat konten asli Indonesia ke dalam board game. Karena, menurutnya dunia selalu mencari sesuatu yang berbeda.

“Pencipta boardgame Indonesia beruntung ada di Indonesia. Anda lahir di negeri dengan budaya yang bisa memberikan ribuan inspirasi, tinggal bagaimana Anda membawa inspirasi ini jadi sesuatu yang mendunia,” tuturnya.

Booth Archipelageek di Essen Spiel 2018 berlokasi di Hall 3, Q-106. Booth berukuran 66 m2 ini menghadirkan 24 judul game dari 7 penerbit asli Indonesia. Delapan dari judul itu dikedepankan sebagai unggulan di bawah label Indonesia Select, yaitu: Aquatico, Mahapatha, Mahardika, Orang Rimba, Smong, The Festivals, The Art of Batik dan Waroong Wars.(Rilis)

(disadur dari Progres.ID: https://progres.id/featured/dongeng-timun-emas-mendunia-melalui-board-game-bekraf-aktif-mendorong-board-game-indonesia-mendunia.html)

16 Nov

BEKRAF Aktif Dorong Kemajuan Industri Board Game Indonesia agar Mendunia, Manikmaya Buktinya

Tak sia-sia berangkat ke Jerman untuk mengikuti pameran board game internasional “Essen Spiel 2018”, industri board game Indonesia akhirnya melengkahkan kaki selangkah ke depan. Bertempat di Booth Archipelageek, penerbit game asal Indonesia Manikmaya Games, menandatangani nota kesepahaman kerjasama lisensi dengan penerbit board game internasional, Blue Orange Games.

Manikmaya Games menandatangani nota kesepahaman kerjasama lisensi dengan Blue Orange Games di Booth Archipelageek (Foto: Dok. APIBGI)

Dilansir dari Eko Nugroho, CEO Manikmaya Games, pembicaraan dengan Blue Orange telah dimulai sejak empat tahun silam. Jadi memang tidak mudah untuk meyakinkan serta menanamkan kepercayaan kepada mereka.

Blue Orange merupakan penerbit game kelas dunia di mana game-game terbitan mereka telah dijual di lebih dari 80 negara di dunia. Kerjasama dengan Manikmaya Games terkait ketertarikan Blue Orange menerbitkan board game dari Manikmaya yang bertema dongeng Timun Mas ke negara-negara tersebut.

“Tahun lalu, kami bertemu dengan Eko Nugroho, CEO Manikmaya, dan kami tertarik dengan game itu. Bukan hanya pada gameplay-nya, tapi juga pada latar ceritanya,” tutur Thierry Denoual, CEO dan co-founder dari Blue Orange Games.

Indonesia mengusung Booth Archipelageek dalam Essen Spiel 2018 yang berlokasi di Hall 3, Q-106 berukuran 66 m² dan menghadirkan 24 judul game pilihan dari 7 penerbit asli Indonesia. Delapan dari ketujuh judul tersebut terpilih sebagai unggulan di bawah label Indonesia Select. Mereka antara lain adalah Aquatico, Mahapatha, Mahardika, Orang Rimba, Smong, The Festivals, The Art of Batik dan Waroong Wars.

BEKRAF DORONG PARA KREATOR AGAR ANGKAT KONTEN ASLI INDONESIA

Joshua Puji Mulia Simandjuntak, Deputi Pemasaran BEKRAF berpendapat bahwa langkah Manikmaya Games menandatangani nota kesepahaman lisensi dengan Blue Orange Games merupakan langkah maju bagi industri board game Indonesia. “Ini langkah pertama untuk board game Indonesia masuk ke pasar global. Kami berharap hal ini bisa menginspirasi pencipta board game di Indonesia untuk melihat bahwa board game Indonesia punya kualitas masuk di pasar global,” tutur beliau.

Menurut Joshua, para pencipta alias kreator board game Tanah Air harus lebih percaya diri untuk mengangkat konten asli Indonesia untuk dituangkan ke dalam board game, karena menurutnya dunia selalu mencari sesuatu yang berbeda. Beliau berpendapat bahwa para kreator board game Indonesia itu beruntung karena lahir di negeri dengan beragam budaya yang bisa memberikan ribuan inspirasi, dan semua kembali kepada para kreator untuk membawa beraneka ragam kebudayaan Indonesia agar lebih dikenal di panggung dunia. (Stefanus/IDGGS)

(dilansir dari IDWS.ID: http://idws.id/portal/berita/bisnis/2628/BEKRAF-Aktif-Dorong-Kemajuan-Industri-Board-Game-Indonesia-agar-Mendunia–Manikmaya-Buktinya)

12 Nov

Bisnis Board Game? Percayalah Pada Konten Lokal!

Kamu tertarik bikin bisnis board game? Mungkin terinspirasi setelah main game tertentu dan mau bikin sendiri?

Salah satu pelajaran menarik dari gelaran Internationale Spieletage SPIEL 18di Essen, Jerman, adalah: percaya pada kekuatan konten lokal.

Indonesia di SPIEL 18 hadir lewat booth Archipelageek, kerjasama Asosiasi Penggiat Board Game Indonesia (APIBGI) dan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf). Salah satu kegiatan di hari pertama pameran adalah penandatanganan kesepakatan antara Manikmaya Games, salah satu penerbit asal Indonesia, dengan Blue Orange penerbit game dunia.

Judul game yang dilisensikan dalam kesepakatan tersebut adalah Buto Ijo dan Timun Mas, diangkat dari cerita rakyat Indonesia.

dari kiri ke kanan: Bonifasius Wahyu Pudjianto (Direktur Pengembangan Pasar Luar Negeri BEKRAF), Thierry Denoual (CEO dan Co-founder Blue Orange Games), Mathias (Blue Orange Games), Eko Nugroho (CEO dan Co-founder Manikmaya Games), Joshua Puji Mulia Simandjuntak (Deputi Pemasaran BEKRAF)

Thierry Denoual, pendiri dan CEO Blue Orange, mengatakan bahwa hal yang menarik perhatiannya saat memutuskan untuk memilih game itu bukan hanya mekanik atau cara bermain, tapi juga ceritanya.

“Kami tertarik, bukan hanya pada permainannya tapi juga cerita di belakangnya. Itu kenapa kami memutuskan untuk menerbitkannya,” ujar Thierry saat ditemui di booth Indonesia yang terletak di Hall 3 – Q106.

Menurut Thierry, jika di Indonesia masih banyak cerita lain, itu adalah peluang besar untuk diangkat menjadi game. “Orang lebih tertarik membeli game jika ada cerita yang nyambung dengan mereka,” tambahnya.

Hal senada diutarakan Joshua Puji Mulia Simandjuntak, Deputi Pemasaran BEKRAF yang turut hadir. Menurut Joshua, pembuat board game asal Indonesia beruntung karena Indonesia memiliki banyak cerita yang bisa jadi inspirasi.

“Dunia itu mencari sesuatu yang baru. Jadi, percaya diri lah pada konten Indonesia. Percaya diri pada produk kreatif Indonesia,” tegasnya.

Bagaimana, kamu siap bikin board game Indonesia?

(disadur dari Digination.ID)