21 Feb

Ramai! 55 Board Game di Gamebox 3.0 Sukses Pukau Warga Salatiga

Salatiga – tepat di akhir minggu lalu, teman-teman DKV Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar acara Gamebox Exhibition 3.0. Menyasar kalangan keluarga, acara ini mengajak pengunjung bermain aneka board game hasil karya dosen dan mahasiswa.

Gamebox
ramainya acara Gamebox Exhibition 3.0

Di tahun ketiga ini, Kedai Kopi dipilih sebagai tema utama. Suasana santai dan ramah ala kedai kopi pun sangat terasa sepanjang acara. Berlokasi di Perpusda Salatiga, acara berlangsung sejak pukul 10 pagi hingga 3 sore, selama tiga hari berturut-turut sejak hari Jumat (15/02) hingga Minggu (17/02).

Baca Juga: Hebat! Penelitian Board Game Ini Juarai PKM Tingkat Universitas di Salatiga

Menariknya, antrian pengunjung yang penasaran dan ingin mencoba board game ini langsung terasa sejak pagi. Meja-meja dan tempat lesehan untuk bermain pun langsung penuh. Bahkan beberapa datang dari daerah lain seperti Kudus, Pekalongan, hingga Semarang.

Keluarga bermain Tepok Aksara

Arie Setiawan, salah satu pelaksana acara menjelaskan tentang kegiatan tahunan kampus ini. “Tahun ini ada 55 board game karya mahasiswa dan dosen. Ada yang masih berupa prototype, sampai yang pernah jadi juara lomba bisa dicoba di sini.” ujarnya.

Ya, sebagian judul board game memang sudah pernah ditampilkan di Gamebox tahun lalu. Sebut saja Tepok Aksara, Tale of Pela Gandong, dan Mie Ayam. Selain itu ada juga Diet Panda, Karunagan, Batik Shop, Battle of Biji Karet, dan masih banyak lagi.

Setelah melihat dan mencoba, rupanya tak jarang ada pemain yang hatinya ‘tertambat’ dan ingin membawa pulang game tersebut. “Banyak dari pengunjung yang memesan judul-judul yang dipamerkan, untuk dimainkan lagi bersama keluarga.” jawab dosen UKSW ini.

Selain menjajal board game, ada juga sesi talkshow yang membahas board game sebagai media edukasi keluarga. Mengundang Erwin J. Skripsiadi dari Hompimpa Games, serta desainer muda Allez M. Tangidy sebagai narasumber, diskusi ini pun cukup mendapat perhatian banyak audiens.

Nah, itu tadi keseruan warga Salatiga bermain board game dalam acara Gamebox 3.0. Sukses terus ya UKSW Salatiga, ditunggu acara menarik berikutnya!

(disadur dari boardgame.id: http://boardgame.id/reportasi-gamebox-exhibition-3-0/)

16 Jan

Festival Belajar Main Buktikan Game Bisa Dijadikan Alat untuk Pembelajaran

Banyak guru dan orang tua yang heran, mengapa saat belajar anak kok males-malesan dan tidak semangat namun ketika bermain mereka jadi girang dan fokus. Jadi apakah belajar semembosankan itu?

Ludenara, sebuah organisasi non-profit, punya cara untuk mengubah stigma tersebut. Kalau belajar itu membosankan bagi anak tapi tidak saat bermain, kenapa tidak membuat suasana belajar yang menyenangkan seperti waktu bermain?

Sesi talkshow | Foto: Boardgame.id

Akhir pekan kemarin, Ludenara baru saja menyelenggarakan sebuah acara bertajuk Festival Belajar Main (FBM). Acara yang ditujukan untuk guru, orang tua dan aktivis di bidang pendidikan ini rupanya berhasil menarik sekitar 80 peserta.

FBM ingin menunjukkan ternyata game bukanlah hal yang negatif dan justru bisa mendorong kegiatan belajar-mengajar menjadi lebih seru. Hal yang pertama dilakukan adalah mengajak para guru dan orang tua tersebut bermain. Hanya dengan ikut bermainlah mereka akan merasakan manfaatnya.

Galeri Resep Main | Foto: Boardgame.id


Di festival ini pula para peserta diberi resep bagaimana menjadikan game untuk pembelajaran. Acara yang terselenggara selama dua hari dari tanggal 12-13 Januari 2019 kemarin mengambil tempat di SD Gagas Ceria Bandung.

Pada hari pertama, acara dimulai dari jam 9 pagi. Peserta disajikan talkshow yang membahas apakah bermain dan belajar adalah aktivitas yang sejalan. Selanjutnya ada sesi Galeri Resep Main.

Sesi ini mengajak peserta untuk berbagi pengalaman bagaimana ia menyuntikkan game dalam sesi belajar di kelas atau di rumah. Rupanya sudah ada beberapa yang mengimplementasikan hal tersebut.

Selanjutnya ada sesi Kelas Belajar Main. Pada sesi ini para peserta menjadi murid yang belajar bermain menggunakan game-game yang sudah disiapkan panitia.

Ada dua tema besar dalam kelas ini: Kelas Sustainability dan Character Building. Kelas tersebut mengajarkan, sebuah proses yang mungkin dampaknya baru bisa dirasakan dalam jangka waktu yang lama bisa langsung tersimulasi jika lewat game.

Kelas Belajar Main: Akatara | Foto: Boardgame.id

Contohnya seperti dalam Kelas Zakuma. Jika banyak individu yang berzakat, akan lahir pula individu lain yang akan turut melakukan zakat. Efek seperti ini tentu tidak bisa dirasakan langsung di dunia nyata, tapi langsung dirasakan saat bermain game yang dikembangkan oleh Badan Amil Zakat Nasional ini (Baznas).

Selain Baznas, banyak pula organisasi yang turut berkontribusi mengisi Kelas Belajar Main. Penyuluh Antikorupsi membawa permainan Terajana untuk mengajarkan integritas dan kejujuran, lalu melawan radikalisme dengan Galaxy Obscurio yang lahir dari program Board Game for Peace besutan Peace Generation.

(disadur dari Boardgame.id: http://boardgame.id/belajar-main-untuk-pembelajaran/)



24 Dec

Manikmaya Games dan Perusahaan Asal Amerika Serikat Pasarkan Game Timun Mas

TRIBUNJATENG.COM, ESSEN – Booth Archipelageek di ajang pameran board game internasional, Essen Spiel 2018, menjadi lokasi bersejarah bagi industri board game Indonesia.

Di booth tersebut penerbit game asal Indonesia Manikmaya Games melakukan penandatangan nota kesepahaman kerjasama lisensi dengan Blue Orange Games, penerbit board game internasional.

Kerjasama ini dilakukan dalam rangka menerbitkan game dari Manikmaya Games yang mengangkat tema dongeng Timun Mas.

“Tahun lalu kami bertemu dengan Eko Nugroho, CEO Manikmaya Games, dan kami tertarik dengan game itu. Bukan hanya pada gameplay-nya, tapi juga pada latar ceritanya,” kata Thierry Denoual, CEO dan Cofounder Blue Orange Games.

Blue Orange adalah penerbit game kelas dunia.

Game terbitan mereka dijual di lebih dari 80 negara di seluruh dunia.

Thierry mengatakan game Timun Mas pun nantinya akan dihadirkan di negara-negara tersebut.

Eko Nugroho, CEO Manikmaya Games, mengatakan pembicaraan dengan Blue Orange sudah dirintis sejak empat tahun lalu.

Proses sampai akhirnya mereka percaya pada game Timun Mas adalah proses yang cukup panjang.

Joshua Puji Mulia Simandjuntak, Deputi Pemasaran BEKRAF, berpendapat bahwa langkah tersebut amat baik bagi  industri board game Indonesia.

“Ini langkah pertama untuk board game Indonesia masuk ke pasar global. Kami berharap hal ini bisa menginspirasi pencipta board game di Indonesia, untuk melihat bahwa board game Indonesia punya kualitas masuk di pasar global,” ujarnya.

Joshua juga mengatakan, pencipta board game Indonesia harus percaya diri untuk mengangkat konten asli Indonesia ke dalam board game.

Karena, menurutnya dunia selalu mencari sesuatu yang berbeda.

“Pencipta boardgame Indonesia beruntung ada di Indonesia. Anda lahir di negeri dengan budaya yang bisa memberikan ribuan inspirasi, tinggal bagaimana Anda membawa inspirasi ini jadi sesuatu yang mendunia,” tuturnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Manikmaya Games dan Perusahaan Asal Amerika Serikat Pasarkan Game Timun Mas, http://jateng.tribunnews.com/2018/10/28/manikmaya-games-dan-perusahaan-asal-amerika-serikat-pasarkan-game-timun-mas.

06 Dec

Boardgame Internasional Essen Spiel 2018 kenalkan Timun Emas di Ajang Bergengsi

Berita360.com, Jakarta – Booth Archipelageek di ajang pameran board game internasional, Essen Spiel 2018, menjadi lokasi bersejarah bagi industri board game Indonesia. Di booth tersebut penerbit game asal Indonesia Manikmaya Games melakukan penandatangan nota kesepahaman kerjasama lisensi dengan Blue Orange Games, penerbit board game internasional.

Boardgame Internasional Essen Spiel 2018 kenalkan Timun Emas di Ajang bergensi

Board game internasional, Essen Spiel 2018. (Foto Sonny/Berita360).

Kerjasama ini dilakukan dalam rangka menerbitkan game dari Manikmaya yang mengangkat tema dongeng Timun Mas. “Tahun lalu kami bertemu dengan Eko Nugroho, CEO Manikmaya, dan kami tertarik dengan game itu. Bukan hanya pada gameplay-nya, tapi juga pada latar ceritanya,” kata Thierry Denoual, CEO dan Cofounder Blue Orange Games.

Blue Orange adalah penerbit game kelas dunia. Game terbitan mereka dijual di lebih dari 80 negara di seluruh dunia. Thierry mengatakan game Timun Mas pun nantinya akan dihadirkan di negara-negara tersebut.

Eko Nugroho, CEO Manikmaya Games, mengatakan pembicaraan dengan Blue Orange sudah dirintis sejak empat tahun lalu. Proses sampai akhirnya mereka percaya pada game Timun Mas adalah proses yang cukup panjang.

Joshua Puji Mulia Simandjuntak, Deputi Pemasaran BEKRAF, berpendapat bahwa langkah tersebut amat baik bagi industri board game Indonesia. “Ini langkah pertama untuk board game Indonesia masuk ke pasar global. Kami berharap hal ini bisa menginspirasi pencipta board game di Indonesia, untuk melihat bahwa board game Indonesia punya kualitas masuk di pasar global,” ujarnya.

Joshua juga mengatakan, pencipta board game Indonesia harus percaya diri untuk mengangkat konten asli Indonesia ke dalam board game. Karena, menurutnya dunia selalu mencari sesuatu yang berbeda.

“Pencipta boardgame Indonesia beruntung ada di Indonesia. Anda lahir di negeri dengan budaya yang bisa memberikan ribuan inspirasi, tinggal bagaimana Anda membawa inspirasi ini jadi sesuatu yang mendunia,” tuturnya.

Booth Archipelageek di Essen Spiel 2018 berlokasi di Hall 3, Q-106. Booth berukuran 66 m2 ini menghadirkan 24 judul game dari 7 penerbit asli Indonesia. Delapan dari judul itu dikedepankan sebagai unggulan di bawah label Indonesia Select, yaitu: Aquatico, Mahapatha, Mahardika, Orang Rimba, Smong, The Festivals, The Art of Batik dan Waroong Wars.

Penulis : Sonny Eko Kusetyawan.
Editor : Tim Red/Berita360.com.

(disadur dari Berita360.com; http://berita360.com/boardgame-internasional-essen-spiel-2018-kenalkan-timun-emas-di-ajang-bergensi/)

27 Nov

Board Game Cerita Asli Indonesia ‘Timun Mas’ Dilirik Perusahaan Perancis

SIAR.Com — Pernah dengar cerita ‘Buto Ijo dan Timun Mas’? Legenda asli Indonesia asal Jawa Tengah itu menjadi permainan menarik ketika diwujudkan dalam board game oleh studio Manikmaya.

Kini board game ‘Buto Ijo dan Timun Mas’ tersebut menjadi salah satu permainan asal Indonesia yang dilirik dan hak ciptanya dibeli perusahaan permainan internasional asal Perancis, Blue Orange, di pameran permainan Spiel Messe 2018 yang berlangsung di kota Essen, Jerman.

Menurut perwakilan Blue Orange, Thierry Denoual, saat ini tema board game tengah jenuh dengan zombie, kerajaan abad pertengahan, bajak laut dan petualangan ala Indiana Jones. “Buto Ijo dan Timun Mas yang diambil dari cerita rakyat negeri yang jauh, menjadi angin segar pada board game yang beredar di pasar internasional,” katanya.

“Ceritanya menarik, mekanisme permainannya baik, sehingga dapat dimainkan bersama keluarga. Para kurator kami sangat menikmati permainannya,” sambung Denoual.

Keberhasilan studio Manikmaya menggaet Blue Orange tak mudah. “Tahun 2014 saya dan teman teman ikut, tapi dapat tempatnya di hall ujung tempat para Indies dan booth kami sangat kecil ukurannya,” ujar CEO studio Manikmaya, Eko Nugroho.

Meski demikian, hal itu tak membuat semangat Eko dan rekan-rekannya patah semangat. Mereka dengan gigih terus berusaha memperkenalkan board game yang terinspirasi dari budaya Indonesia serta membangun jaringan dengan para pengusaha, kurator, game geeks serta para game blogger.

Board Game Buto Ijo dan Timun Mas (sumber foto DW)

Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) ikut mendukung upaya mereka dengan menghadirkan paviliun Indonesia berjudul Archipelageek di pameran tersebut. Di paviliun Indonesia, Archipelageek, Bekraf membawa tujuh studio game termasuk studio Manikmaya. Mereka memperkenalkan 24 permainan board game terbarunya.

Di area yang sama, paviliun Indonesia bersanding dengan stand perusahaan raksasa dunia seperti Hasbro (pemegang hak cipta permainan board game klasik Monopoly), Haba dan Ravensburger (perusahaan game board dan puzzle asal Jerman)

“Kualitas board game Indonesia tidak kalah bagusnya dengan board game lain yang ada di pameran Spiel Messe ini, sehingga Bekraf mendukung studio game board yang tergabung dalam Asosiasi Pegiat Industri Board Game Indonesia untuk hadir di Jerman,” ujar Deputy Pemasaran Bekraf, Joshua Simanjuntak.

Permainan papan tak sekadar rekreasi, kata CEO Manikmaya Eko Nugroho. Media ini juga dapat berfungsi sebagai ajang pendidikan dan informasi. Bila board game dimainkan setidaknya sekali seminggu dalam keluarga, maka anak-anak akan lebih mengenal cerita rakyat, belajar bersikap adil dan sportif serta merekatkan hubungan dalam keluarga. (Dari berbagai sumber/Joko Susilo)

(disadur dari Siar: https://siar.com/board-game-cerita-asli-indonesia-timun-mas-dilirik-perusahaan-perancis/)

19 Nov

Dongeng “Timun Emas” Mendunia Melalui Board Game, BEKRAF Aktif Mendorong Board Game Indonesia Mendunia

PROGRES.ID, JERMAN – Booth Archipelageek di ajang pameran board game internasional, Essen Spiel 2018, menjadi lokasi bersejarah bagi industri board game Indonesia. Di booth tersebut penerbit game asal Indonesia Manikmaya Games melakukan penandatangan nota kesepahaman kerjasama lisensi dengan Blue Orange Games, penerbit board game internasional.

Kerjasama ini dilakukan dalam rangka menerbitkan game dari Manikmaya yang mengangkat tema dongeng Timun Mas.

“Tahun lalu kami bertemu dengan Eko Nugroho, CEO Manikmaya, dan kami tertarik dengan game itu. Bukan hanya pada gameplay-nya, tapi juga pada latar ceritanya,” kata Thierry Denoual, CEO dan Cofounder Blue Orange Games.

Blue Orange adalah penerbit game kelas dunia. Game terbitan mereka dijual di lebih dari 80 negara di seluruh dunia. Thierry mengatakan game Timun Mas pun nantinya akan dihadirkan di negara-negara tersebut.

Eko Nugroho, CEO Manikmaya Games, mengatakan pembicaraan dengan Blue Orange sudah dirintis sejak empat tahun lalu. Proses sampai akhirnya mereka percaya pada game Timun Mas adalah proses yang cukup panjang.

Joshua Puji Mulia Simandjuntak, Deputi Pemasaran BEKRAF, berpendapat bahwa langkah tersebut amat baik bagi industri board game Indonesia.

“Ini langkah pertama untuk board game Indonesia masuk ke pasar global. Kami berharap hal ini bisa menginspirasi pencipta board game di Indonesia, untuk melihat bahwa board game Indonesia punya kualitas masuk di pasar global,” ujarnya.

Joshua juga mengatakan, pencipta board game Indonesia harus percaya diri untuk mengangkat konten asli Indonesia ke dalam board game. Karena, menurutnya dunia selalu mencari sesuatu yang berbeda.

“Pencipta boardgame Indonesia beruntung ada di Indonesia. Anda lahir di negeri dengan budaya yang bisa memberikan ribuan inspirasi, tinggal bagaimana Anda membawa inspirasi ini jadi sesuatu yang mendunia,” tuturnya.

Booth Archipelageek di Essen Spiel 2018 berlokasi di Hall 3, Q-106. Booth berukuran 66 m2 ini menghadirkan 24 judul game dari 7 penerbit asli Indonesia. Delapan dari judul itu dikedepankan sebagai unggulan di bawah label Indonesia Select, yaitu: Aquatico, Mahapatha, Mahardika, Orang Rimba, Smong, The Festivals, The Art of Batik dan Waroong Wars.(Rilis)

(disadur dari Progres.ID: https://progres.id/featured/dongeng-timun-emas-mendunia-melalui-board-game-bekraf-aktif-mendorong-board-game-indonesia-mendunia.html)

12 Nov

Bisnis Board Game? Percayalah Pada Konten Lokal!

Kamu tertarik bikin bisnis board game? Mungkin terinspirasi setelah main game tertentu dan mau bikin sendiri?

Salah satu pelajaran menarik dari gelaran Internationale Spieletage SPIEL 18di Essen, Jerman, adalah: percaya pada kekuatan konten lokal.

Indonesia di SPIEL 18 hadir lewat booth Archipelageek, kerjasama Asosiasi Penggiat Board Game Indonesia (APIBGI) dan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf). Salah satu kegiatan di hari pertama pameran adalah penandatanganan kesepakatan antara Manikmaya Games, salah satu penerbit asal Indonesia, dengan Blue Orange penerbit game dunia.

Judul game yang dilisensikan dalam kesepakatan tersebut adalah Buto Ijo dan Timun Mas, diangkat dari cerita rakyat Indonesia.

dari kiri ke kanan: Bonifasius Wahyu Pudjianto (Direktur Pengembangan Pasar Luar Negeri BEKRAF), Thierry Denoual (CEO dan Co-founder Blue Orange Games), Mathias (Blue Orange Games), Eko Nugroho (CEO dan Co-founder Manikmaya Games), Joshua Puji Mulia Simandjuntak (Deputi Pemasaran BEKRAF)

Thierry Denoual, pendiri dan CEO Blue Orange, mengatakan bahwa hal yang menarik perhatiannya saat memutuskan untuk memilih game itu bukan hanya mekanik atau cara bermain, tapi juga ceritanya.

“Kami tertarik, bukan hanya pada permainannya tapi juga cerita di belakangnya. Itu kenapa kami memutuskan untuk menerbitkannya,” ujar Thierry saat ditemui di booth Indonesia yang terletak di Hall 3 – Q106.

Menurut Thierry, jika di Indonesia masih banyak cerita lain, itu adalah peluang besar untuk diangkat menjadi game. “Orang lebih tertarik membeli game jika ada cerita yang nyambung dengan mereka,” tambahnya.

Hal senada diutarakan Joshua Puji Mulia Simandjuntak, Deputi Pemasaran BEKRAF yang turut hadir. Menurut Joshua, pembuat board game asal Indonesia beruntung karena Indonesia memiliki banyak cerita yang bisa jadi inspirasi.

“Dunia itu mencari sesuatu yang baru. Jadi, percaya diri lah pada konten Indonesia. Percaya diri pada produk kreatif Indonesia,” tegasnya.

Bagaimana, kamu siap bikin board game Indonesia?

(disadur dari Digination.ID)

12 Nov

BEKRAF Aktif Mendorong Board Game Indonesia Mendunia

ESSEN, JERMAN, theindonesiatimes – Booth Archipelageek di ajang pameran board game internasional, Essen Spiel 2018, menjadi lokasi bersejarah bagi industri board game Indonesia. Di booth tersebut penerbit game asal Indonesia Manikmaya Games melakukan penandatangan nota kesepahaman kerjasama lisensi dengan Blue Orange Games, penerbit board game internasional.

Penandatangan MoU di Booth Archipelageek di ajang pameran board game internasional, Essen Spiel 2018

Penandatangan MoU di Booth Archipelageek di ajang pameran board game internasional, Essen Spiel 2018. (Foto: Dok Bekraf)

Kerjasama ini dilakukan dalam rangka menerbitkan game dari Manikmaya yang mengangkat tema dongeng Timun Mas. “Tahun lalu kami bertemu dengan Eko Nugroho, CEO Manikmaya, dan kami tertarik dengan game itu. Bukan hanya pada gameplay-nya, tapi juga pada latar ceritanya,” kata Thierry Denoual, CEO dan Cofounder Blue Orange Games.

Blue Orange adalah penerbit game kelas dunia. Game terbitan mereka dijual di lebih dari 80 negara di seluruh dunia. Thierry mengatakan game Timun Mas pun nantinya akan dihadirkan di negara-negara tersebut.

Eko Nugroho, CEO Manikmaya Games, mengatakan pembicaraan dengan Blue Orange sudah dirintis sejak empat tahun lalu. Proses sampai akhirnya mereka percaya pada game Timun Mas adalah proses yang cukup panjang.

Joshua Puji Mulia Simandjuntak, Deputi Pemasaran BEKRAF, berpendapat bahwa langkah tersebut amat baik bagi industri board game Indonesia. “Ini langkah pertama untuk board game Indonesia masuk ke pasar global. Kami berharap hal ini bisa menginspirasi pencipta board game di Indonesia, untuk melihat bahwa board game Indonesia punya kualitas masuk di pasar global,” ujarnya.

Joshua juga mengatakan, pencipta board game Indonesia harus percaya diri untuk mengangkat konten asli Indonesia ke dalam board game. Karena, menurutnya dunia selalu mencari sesuatu yang berbeda. “Pencipta boardgame Indonesia beruntung ada di Indonesia. Anda lahir di negeri dengan budaya yang bisa memberikan ribuan inspirasi, tinggal bagaimana Anda membawa inspirasi ini jadi sesuatu yang mendunia,” tuturnya.

Booth Archipelageek di Essen Spiel 2018 berlokasi di Hall 3, Q-106. Booth berukuran 66 m2 ini menghadirkan 24 judul game dari 7 penerbit asli Indonesia. Delapan dari judul itu dikedepankan sebagai unggulan di bawah label Indonesia Select, yaitu: Aquatico, Mahapatha, Mahardika, Orang Rimba, Smong, The Festivals, The Art of Batik dan Waroong Wars. (Red/Jay)

(disadur dari The Indonesia Times)

19 Oct

Profil 24 Board Game Indonesia Yang Siap Dipamerkan Di Jerman [Bagian 12]

Oktober mendatang,kontingen Indonesia kembali berpartisipasi dalam SPIEL 2018, pameran board game paling bergengsi di Essen Jerman. Keikutsertaan Indonesia kali ini mendapat dukungan penuh dari Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) dan Asosiasi Pegiat Industri Board Game Indonesia (APIBGI).

Sebanyak24 board game Indonesiatelah lolos seleksi dan siap dipamerkan dalam booth Archipelageek dari kontingaen Indonesia. Berikut ini, Boardgame.id akan menyajikan seri ke-12 dari 12 seri artikel yang akan menjelaskan profil board game-board game karya anak bangsa yang terpilih mewakili Indonesia di Essen SPIEL 2018.

23. Karnaval

Karnaval adalah salah satu perayaan yang seru untuk dinanti-nantikan atau dilihat. Tergantung dari perayaannya sendiri, karnaval bisa hadir dalam berbagai tema. Di Bali ada karnaval Ogoh-Ogoh di mana warga membuat raksasa yang akan di gotong melintasi kota.

Ada juga yang bertema busana seperti Jember Fashion Carnival di Jawa Timur atau kalau di Jawa Tengah ada Solo Batik Carnival (SBC). Nah! di dalam permainan keluaran Hompimpa Games ini, pemain akan menjadi pemimpin sebuah grup karnaval untuk tampil di ajang SBC.

Dua sampai empat pemain ditantang harus mencermati segala motif, simbol, dan busana dari setiap barisan mereka agar memiliki pola yang rapi. Setiap barisanmu yang berhasil mengikuti pola akan menghasilkan poin. Di sinilah saatnya menunjukkan bahwa grup karnaval milikmu lah yang akan tampil paling menawan.

24. Ulee Kareung

Jika kamu pergi ke kota Medan, kamu bisa mencari sebuah keude kupie atau kedai kopi Ulee Kareng yang menjadi surga bagi para pecinta kopi di seluruh negeri. Ada yang menarik dari tempat ini. Semua pelayan di kedai kopi ini tahu selera pelanggan mereka.

Mengukur kopi, gula, susu, makanan ringan pelengkap dan lainnya. Dalam permainan ini pemain akan bertindak sebagai salah satu pelayan di kedai kopi Ulee Kareung. Anda harus menyajikan kopi sesuai selera pelanggan. Hafalkan, siapkan bahan dan sajikan kopi kepada pelanggan untuk menjadi pemenang dalam permainan ini.

Game ini juga akan dirilis oleh Hompimpa Games. Dapat dimainkan dengan jumlah pemain 2-4 orang.

(disadur dari Boardgame.id: http://boardgame.id/profil-24-board-game-indonesia-12/)