06 Dec

Boardgame Internasional Essen Spiel 2018 kenalkan Timun Emas di Ajang Bergengsi

Berita360.com, Jakarta – Booth Archipelageek di ajang pameran board game internasional, Essen Spiel 2018, menjadi lokasi bersejarah bagi industri board game Indonesia. Di booth tersebut penerbit game asal Indonesia Manikmaya Games melakukan penandatangan nota kesepahaman kerjasama lisensi dengan Blue Orange Games, penerbit board game internasional.

Boardgame Internasional Essen Spiel 2018 kenalkan Timun Emas di Ajang bergensi

Board game internasional, Essen Spiel 2018. (Foto Sonny/Berita360).

Kerjasama ini dilakukan dalam rangka menerbitkan game dari Manikmaya yang mengangkat tema dongeng Timun Mas. “Tahun lalu kami bertemu dengan Eko Nugroho, CEO Manikmaya, dan kami tertarik dengan game itu. Bukan hanya pada gameplay-nya, tapi juga pada latar ceritanya,” kata Thierry Denoual, CEO dan Cofounder Blue Orange Games.

Blue Orange adalah penerbit game kelas dunia. Game terbitan mereka dijual di lebih dari 80 negara di seluruh dunia. Thierry mengatakan game Timun Mas pun nantinya akan dihadirkan di negara-negara tersebut.

Eko Nugroho, CEO Manikmaya Games, mengatakan pembicaraan dengan Blue Orange sudah dirintis sejak empat tahun lalu. Proses sampai akhirnya mereka percaya pada game Timun Mas adalah proses yang cukup panjang.

Joshua Puji Mulia Simandjuntak, Deputi Pemasaran BEKRAF, berpendapat bahwa langkah tersebut amat baik bagi industri board game Indonesia. “Ini langkah pertama untuk board game Indonesia masuk ke pasar global. Kami berharap hal ini bisa menginspirasi pencipta board game di Indonesia, untuk melihat bahwa board game Indonesia punya kualitas masuk di pasar global,” ujarnya.

Joshua juga mengatakan, pencipta board game Indonesia harus percaya diri untuk mengangkat konten asli Indonesia ke dalam board game. Karena, menurutnya dunia selalu mencari sesuatu yang berbeda.

“Pencipta boardgame Indonesia beruntung ada di Indonesia. Anda lahir di negeri dengan budaya yang bisa memberikan ribuan inspirasi, tinggal bagaimana Anda membawa inspirasi ini jadi sesuatu yang mendunia,” tuturnya.

Booth Archipelageek di Essen Spiel 2018 berlokasi di Hall 3, Q-106. Booth berukuran 66 m2 ini menghadirkan 24 judul game dari 7 penerbit asli Indonesia. Delapan dari judul itu dikedepankan sebagai unggulan di bawah label Indonesia Select, yaitu: Aquatico, Mahapatha, Mahardika, Orang Rimba, Smong, The Festivals, The Art of Batik dan Waroong Wars.

Penulis : Sonny Eko Kusetyawan.
Editor : Tim Red/Berita360.com.

(disadur dari Berita360.com; http://berita360.com/boardgame-internasional-essen-spiel-2018-kenalkan-timun-emas-di-ajang-bergensi/)

29 Nov

Sejarah Industri Board Game Indonesia Dimulai di Jerman

industri board game Indonesia

Sejarah bagi industri board game Indonesia (foto : Bekraf)

STARJOGJA.COM, JERMAN – Booth Archipelageek di ajang pameran board game internasional, Essen Spiel 2018, menjadi lokasi bersejarah bagi industri board game Indonesia. Di booth tersebut penerbit game asal Indonesia Manikmaya Games melakukan penandatangan nota kesepahaman kerjasama lisensi dengan Blue Orange Games, penerbit board game internasional.

Kerjasama ini dilakukan dalam rangka menerbitkan game dari Manikmaya yang mengangkat tema dongeng Timun Mas.

“Tahun lalu kami bertemu dengan Eko Nugroho, CEO Manikmaya, dan kami tertarik dengan game itu. Bukan hanya pada gameplay-nya, tapi juga pada latar ceritanya,” kata Thierry Denoual, CEO dan Cofounder Blue Orange Games.

Blue Orange adalah penerbit game kelas dunia. Game terbitan mereka dijual di lebih dari 80 negara di seluruh dunia. Thierry mengatakan game Timun Mas pun nantinya akan dihadirkan di negara-negara tersebut.

Eko Nugroho, CEO Manikmaya Games, mengatakan pembicaraan dengan Blue Orange sudah dirintis sejak empat tahun lalu. Proses sampai akhirnya mereka percaya pada game Timun Mas adalah proses yang cukup panjang.

Joshua Puji Mulia Simandjuntak, Deputi Pemasaran BEKRAF, berpendapat bahwa langkah tersebut amat baik bagi industri board game Indonesia.

“Ini langkah pertama untuk board game Indonesia masuk ke pasar global. Kami berharap hal ini bisa menginspirasi pencipta board game di Indonesia, untuk melihat bahwa board game Indonesia punya kualitas masuk di pasar global,” ujarnya.

Joshua juga mengatakan, pencipta board game Indonesia harus percaya diri untuk mengangkat konten asli Indonesia ke dalam board game. Karena, menurutnya dunia selalu mencari sesuatu yang berbeda.

“Pencipta boardgame Indonesia beruntung ada di Indonesia. Anda lahir di negeri dengan budaya yang bisa memberikan ribuan inspirasi, tinggal bagaimana Anda membawa inspirasi ini jadi sesuatu yang mendunia,” tuturnya.

Booth Archipelageek di Essen Spiel 2018 berlokasi di Hall 3, Q-106. Booth berukuran 66 m2 ini menghadirkan 24 judul game dari 7 penerbit asli Indonesia. Delapan dari judul itu dikedepankan sebagai unggulan di bawah label Indonesia Select, yaitu: Aquatico, Mahapatha, Mahardika, Orang Rimba, Smong, The Festivals, The Art of Batik dan Waroong Wars.

27 Nov

Board Game Cerita Asli Indonesia ‘Timun Mas’ Dilirik Perusahaan Perancis

SIAR.Com — Pernah dengar cerita ‘Buto Ijo dan Timun Mas’? Legenda asli Indonesia asal Jawa Tengah itu menjadi permainan menarik ketika diwujudkan dalam board game oleh studio Manikmaya.

Kini board game ‘Buto Ijo dan Timun Mas’ tersebut menjadi salah satu permainan asal Indonesia yang dilirik dan hak ciptanya dibeli perusahaan permainan internasional asal Perancis, Blue Orange, di pameran permainan Spiel Messe 2018 yang berlangsung di kota Essen, Jerman.

Menurut perwakilan Blue Orange, Thierry Denoual, saat ini tema board game tengah jenuh dengan zombie, kerajaan abad pertengahan, bajak laut dan petualangan ala Indiana Jones. “Buto Ijo dan Timun Mas yang diambil dari cerita rakyat negeri yang jauh, menjadi angin segar pada board game yang beredar di pasar internasional,” katanya.

“Ceritanya menarik, mekanisme permainannya baik, sehingga dapat dimainkan bersama keluarga. Para kurator kami sangat menikmati permainannya,” sambung Denoual.

Keberhasilan studio Manikmaya menggaet Blue Orange tak mudah. “Tahun 2014 saya dan teman teman ikut, tapi dapat tempatnya di hall ujung tempat para Indies dan booth kami sangat kecil ukurannya,” ujar CEO studio Manikmaya, Eko Nugroho.

Meski demikian, hal itu tak membuat semangat Eko dan rekan-rekannya patah semangat. Mereka dengan gigih terus berusaha memperkenalkan board game yang terinspirasi dari budaya Indonesia serta membangun jaringan dengan para pengusaha, kurator, game geeks serta para game blogger.

Board Game Buto Ijo dan Timun Mas (sumber foto DW)

Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) ikut mendukung upaya mereka dengan menghadirkan paviliun Indonesia berjudul Archipelageek di pameran tersebut. Di paviliun Indonesia, Archipelageek, Bekraf membawa tujuh studio game termasuk studio Manikmaya. Mereka memperkenalkan 24 permainan board game terbarunya.

Di area yang sama, paviliun Indonesia bersanding dengan stand perusahaan raksasa dunia seperti Hasbro (pemegang hak cipta permainan board game klasik Monopoly), Haba dan Ravensburger (perusahaan game board dan puzzle asal Jerman)

“Kualitas board game Indonesia tidak kalah bagusnya dengan board game lain yang ada di pameran Spiel Messe ini, sehingga Bekraf mendukung studio game board yang tergabung dalam Asosiasi Pegiat Industri Board Game Indonesia untuk hadir di Jerman,” ujar Deputy Pemasaran Bekraf, Joshua Simanjuntak.

Permainan papan tak sekadar rekreasi, kata CEO Manikmaya Eko Nugroho. Media ini juga dapat berfungsi sebagai ajang pendidikan dan informasi. Bila board game dimainkan setidaknya sekali seminggu dalam keluarga, maka anak-anak akan lebih mengenal cerita rakyat, belajar bersikap adil dan sportif serta merekatkan hubungan dalam keluarga. (Dari berbagai sumber/Joko Susilo)

(disadur dari Siar: https://siar.com/board-game-cerita-asli-indonesia-timun-mas-dilirik-perusahaan-perancis/)

12 Nov

Bisnis Board Game? Percayalah Pada Konten Lokal!

Kamu tertarik bikin bisnis board game? Mungkin terinspirasi setelah main game tertentu dan mau bikin sendiri?

Salah satu pelajaran menarik dari gelaran Internationale Spieletage SPIEL 18di Essen, Jerman, adalah: percaya pada kekuatan konten lokal.

Indonesia di SPIEL 18 hadir lewat booth Archipelageek, kerjasama Asosiasi Penggiat Board Game Indonesia (APIBGI) dan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf). Salah satu kegiatan di hari pertama pameran adalah penandatanganan kesepakatan antara Manikmaya Games, salah satu penerbit asal Indonesia, dengan Blue Orange penerbit game dunia.

Judul game yang dilisensikan dalam kesepakatan tersebut adalah Buto Ijo dan Timun Mas, diangkat dari cerita rakyat Indonesia.

dari kiri ke kanan: Bonifasius Wahyu Pudjianto (Direktur Pengembangan Pasar Luar Negeri BEKRAF), Thierry Denoual (CEO dan Co-founder Blue Orange Games), Mathias (Blue Orange Games), Eko Nugroho (CEO dan Co-founder Manikmaya Games), Joshua Puji Mulia Simandjuntak (Deputi Pemasaran BEKRAF)

Thierry Denoual, pendiri dan CEO Blue Orange, mengatakan bahwa hal yang menarik perhatiannya saat memutuskan untuk memilih game itu bukan hanya mekanik atau cara bermain, tapi juga ceritanya.

“Kami tertarik, bukan hanya pada permainannya tapi juga cerita di belakangnya. Itu kenapa kami memutuskan untuk menerbitkannya,” ujar Thierry saat ditemui di booth Indonesia yang terletak di Hall 3 – Q106.

Menurut Thierry, jika di Indonesia masih banyak cerita lain, itu adalah peluang besar untuk diangkat menjadi game. “Orang lebih tertarik membeli game jika ada cerita yang nyambung dengan mereka,” tambahnya.

Hal senada diutarakan Joshua Puji Mulia Simandjuntak, Deputi Pemasaran BEKRAF yang turut hadir. Menurut Joshua, pembuat board game asal Indonesia beruntung karena Indonesia memiliki banyak cerita yang bisa jadi inspirasi.

“Dunia itu mencari sesuatu yang baru. Jadi, percaya diri lah pada konten Indonesia. Percaya diri pada produk kreatif Indonesia,” tegasnya.

Bagaimana, kamu siap bikin board game Indonesia?

(disadur dari Digination.ID)

12 Nov

BEKRAF Aktif Mendorong Board Game Indonesia Mendunia

ESSEN, JERMAN, theindonesiatimes – Booth Archipelageek di ajang pameran board game internasional, Essen Spiel 2018, menjadi lokasi bersejarah bagi industri board game Indonesia. Di booth tersebut penerbit game asal Indonesia Manikmaya Games melakukan penandatangan nota kesepahaman kerjasama lisensi dengan Blue Orange Games, penerbit board game internasional.

Penandatangan MoU di Booth Archipelageek di ajang pameran board game internasional, Essen Spiel 2018

Penandatangan MoU di Booth Archipelageek di ajang pameran board game internasional, Essen Spiel 2018. (Foto: Dok Bekraf)

Kerjasama ini dilakukan dalam rangka menerbitkan game dari Manikmaya yang mengangkat tema dongeng Timun Mas. “Tahun lalu kami bertemu dengan Eko Nugroho, CEO Manikmaya, dan kami tertarik dengan game itu. Bukan hanya pada gameplay-nya, tapi juga pada latar ceritanya,” kata Thierry Denoual, CEO dan Cofounder Blue Orange Games.

Blue Orange adalah penerbit game kelas dunia. Game terbitan mereka dijual di lebih dari 80 negara di seluruh dunia. Thierry mengatakan game Timun Mas pun nantinya akan dihadirkan di negara-negara tersebut.

Eko Nugroho, CEO Manikmaya Games, mengatakan pembicaraan dengan Blue Orange sudah dirintis sejak empat tahun lalu. Proses sampai akhirnya mereka percaya pada game Timun Mas adalah proses yang cukup panjang.

Joshua Puji Mulia Simandjuntak, Deputi Pemasaran BEKRAF, berpendapat bahwa langkah tersebut amat baik bagi industri board game Indonesia. “Ini langkah pertama untuk board game Indonesia masuk ke pasar global. Kami berharap hal ini bisa menginspirasi pencipta board game di Indonesia, untuk melihat bahwa board game Indonesia punya kualitas masuk di pasar global,” ujarnya.

Joshua juga mengatakan, pencipta board game Indonesia harus percaya diri untuk mengangkat konten asli Indonesia ke dalam board game. Karena, menurutnya dunia selalu mencari sesuatu yang berbeda. “Pencipta boardgame Indonesia beruntung ada di Indonesia. Anda lahir di negeri dengan budaya yang bisa memberikan ribuan inspirasi, tinggal bagaimana Anda membawa inspirasi ini jadi sesuatu yang mendunia,” tuturnya.

Booth Archipelageek di Essen Spiel 2018 berlokasi di Hall 3, Q-106. Booth berukuran 66 m2 ini menghadirkan 24 judul game dari 7 penerbit asli Indonesia. Delapan dari judul itu dikedepankan sebagai unggulan di bawah label Indonesia Select, yaitu: Aquatico, Mahapatha, Mahardika, Orang Rimba, Smong, The Festivals, The Art of Batik dan Waroong Wars. (Red/Jay)

(disadur dari The Indonesia Times)