08 Oct

Profil 24 Board Game Indonesia Yang Siap Dipamerkan Di Jerman [Bagian 5]

Oktober mendatang, kontingen Indonesia kembali berpartisipasi dalam SPIEL 2018, pameran board game paling bergengsi di Essen Jerman. Keikutsertaan Indonesia kali ini mendapat dukungan penuh dari Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) dan Asosiasi Pegiat Industri Board Game Indonesia (APIBGI).

Sebanyak 24 board game Indonesia telah lolos seleksi dan siap dipamerkan dalam booth Archipelageek dari kontingaen Indonesia. Berikut ini, Boardgame.id akan menyajikan seri kelima dari 12 seri artikel yang akan menjelaskan profil board game-board game karya anak bangsa yang terpilih mewakili Indonesia di Essen SPIEL 2018.

9. Ibnu Batutah

Ibnu Batutah adalah seorang cendikiawan muslim yang pernah berkelana ke berbagai tempat di dunia pada abad pertengahan. Perjalanan ini ia lakukan selama 30 tahun dan semua jejak dan kisahnya ia tuliskan dalam buku berjudul Rihla.

Ibnu Batutah dari Maen Main | Foto: Isa Akbar

Dalam game ini, pemain adalah muda-mudi yang baru pertama kali membaca buku tersebut setelah berabad-abad hilang. Semangat muda yang masih menggebu-gebu membuat mereka menjadikan kesempatan ini sebagai kompetisi. Barang siapa yang berhasil menyelesaikan misi dan menilik kembali jejak Ibnu Batutah berkesempatan menjadi pemenang.

Berbagai benua, negara dan kota yang ditransformasi dalam papan permainan utama dapat dikunjungi pemain. Game ini akan diterbitkan oleh Maen Main dan ditujukan untuk keluarga. Dapat dimainkan untuk 3-4 pemain. Orang tua bisa sambil melihat kembali buku sejarah dan menceritakannya kepada anggota keluarganya tentang misi dan daerah yang didasarkan perjalanan Ibnu Batutah.

10. Acaraki: The Java Herbalist

Pada zaman Majapahit berabad-abad lalu, pastinya belum ada obat-obatan berbahan kimia untuk penyembuhan penyakit. Alhasil, para tabib atau dokter mencari bahan alami sebagai resep obat. Pada zaman itu pula muncul istilah Acaraki, seseorang yang ahli pengobatan yang mengandalkan tumbuhan herbal khusus untuk obat.

Acaraki dari Hompimpa Games | Foto: Isa Akbar

Permainan ini mengajak pemain menjadi seorang acaraki yang akan berkeliling desa di Majapahit untuk menyembuhkan penduduk yang tengah sakit. Berbagai penyakit seperti batuk, flu, encok dan penyakit lainnya bisa disembuhkan apabila pemain telah mengumpulkan bahan-bahan herbal yang tepat.

Uniknya, pemain bisa meminta bayaran kepada pasien yang disembuhkan atas jasanya. Atau, memilih mengobati tanpa pamrih. Terkadang keikhlasan akan berbuah menjadi berkah di lain kesempatan. Diterbitkan oleh Hompimpa Games, permainan ini dapat dimainkan mulai dari dua sampai empat pemain.

(disadur dari Boardgame.id)

04 Oct

Profil 24 Board Game Indonesia Yang Siap Dipamerkan Di Jerman [Bagian 4]

Oktober mendatang, kontingen Indonesia kembali berpartisipasi dalam SPIEL 2018, pameran board game paling bergengsi di Essen Jerman. Keikutsertaan Indonesia kali ini mendapat dukungan penuh dari Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) dan Asosiasi Pegiat Industri Board Game Indonesia (APIBGI).

Sebanyak 24 board game Indonesia telah lolos seleksi dan siap dipamerkan dalam booth Archipelageek dari kontingaen Indonesia. Berikut ini, Boardgame.id akan menyajikan seri keempat dari 12 seri artikel yang akan menjelaskan profil board game-board game karya anak bangsa yang terpilih mewakili Indonesia di Essen SPIEL 2018.

7. Waroong Wars (2nd Edition)

Tahun 2015 lalu, sebuah kompetisi bertajuk Board Game Challenge berlangsung di lima kota, salah satunya Surabaya. Di akhir kompetisi, keluarlah board game berjudul Waroong Wars asal Surabaya sebagai jawara. Game ini cepat mendapatkan penggemar lantaran tema yang diangkat berupa kuliner.

Perubahan yang sangat nampak bisa dilihat dari ilustrasinya | Foto: Isa Akbar

Kuliner yang diangkat berupa makanan khas Surabaya seperti Lontong Balap, Rawon, Sate Klopo dan masih banyak lagi. Ceritanya pemain menjadi pemilik warung dan harus bersaing dengan warung lain untuk mendapatkan pelanggan dengan memasak makan-makanan di atas.

Pertama rilis, Waroong Wars diterbitkan di bawah penerbit Kompas dan pernah menjadi suvenir resmi Kementrian Pariwisata. Tiga tahun berselang, Waroong Wars hadir kembali dengan wajah baru dan sedikit modifikasi di cara main. Table Toys, sebuah board game library di Kota Surabaya kini merambah menjadi penerbit dengan Waroong Wars edisi kedua ini sebagai salah satu lini produksi pertamanya.

8. Smong

Ada pernah mendengar cerita bagaimana banyak penduduk di pulau Simeulue yang selamat dari bencana tsunami yang menimpa Aceh tahun 2004? Setelah ditelusuri, masyarakat di sana rupanya mempercayai sebuah cerita rakyat bertajuk “Linon dan Smong” atau gempa dan tsunami.

Versi prototipe dari Smong | Foto: Manikmaya Games

Hikayat tersebut menceritakan akan ada naga air besar yang akan menyerang jika gelombang besar naik ke darat dari laut. Para penduduk kemudian melarikan diri ke dataran yang lebih tinggi untuk berlindung. Cerita ini turun-temurun disampaikan sedari kecil. Sehingga tanpa sadar, saat penduduk melihat gelombang air laut pasang mereka akan segera berlari ke gunung.

Berdasar cerita di atas, Manikmaya Games kemudian menerjemahkannya menjadi sebuah board game berjudul Smong. Pemain akan menjadi kura-kura yang berusaha menyelamatkan diri dari naga air ke arah gunung sampai bala bantuan dari Nabang, sang penunggang ikan paus, datang. Begitu nabang datang pemain akan membantu mendorong mundur sang naga. Permainan ini akan menguji tingkat keberanian atau nyali pemain.

(disadur dari Boardgame.id)

04 Oct

Profil 24 Board Game Indonesia Yang Siap Dipamerkan Di Jerman [Bagian 3]

Oktober mendatang, kontingen Indonesia kembali berpartisipasi dalam SPIEL 2018, pameran board game paling bergengsi di Essen Jerman. Keikutsertaan Indonesia kali ini mendapat dukungan penuh dari Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) dan Asosiasi Pegiat Industri Board Game Indonesia (APIBGI).

Sebanyak 24 board game Indonesia telah lolos seleksi dan siap dipamerkan dalam booth Archipelageek dari kontingaen Indonesia. Berikut ini, Boardgame.id akan menyajikan seri pertama dari 12 seri artikel yang akan menjelaskan profil board game-board game karya anak bangsa yang terpilih mewakili Indonesia di Essen SPIEL 2018.

4. Orang Rimba: The Forest Keeper

Tahukah kamu jika dalam sebuah Taman Nasional di pulau Sumatera ada sekelompok orang (suku) yang hidup berdampingan dengan alam layaknya manusia rimba? Itulah tema yang diangkat dalam board game berjudul Orang Rimba karya Anggreini Pratiwi ini.

Selesaikan misi sembari mengusir para penebang liar dari hutan | Foto: Isa Akbar

Ya! Game ini bercerita tentang Suku Anak Dalam, penduduk asli yang menempati kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas di Jambi. Pemain akan mengendalikan sepasang Anak Dalam untuk menjaga menjalankan misi sekaligus menjaga kelestarian hutan dari ancaman para oknum yang ingin mengeksploitasi sumber daya alam di sana.

Bermekanisme tradinggrid movementresource management dan pick-up and deliver, kamu bisa melakukan berbagai aksi dengan token dan kartu yang tersedia dalam permainan berdurasi 60 menit untuk 2-4 orang ini. Hompimpa Games telah merilis tahun lalu dan turut dipamerkan di SPIEL 2017.

5. The Art of Batik

Batik sudah menjadi kain khas sekaligus identitas Indonesia. Tentu menarik jika kita bisa belajar dunia produksi dan perdagangan kain tersebut. Game ini menceritakan kehidupan Mbok Mase, sebutan bagi perempuan yang menjadi saudagar batik. Istilah ini sendiri muncul sejak awal abad 20, dari kelompok usaha batik di Laweyan, Solo.

Yuk berkontribusi dalam proses pembuatan batik | Foto: Isa Akbar

Dalam menjalankan bisnis batiknya, untungnya para Mbok Mase ini tidak bekerja sendiri, ia dibantu oleh suaminya yang dipanggil Mas Nganten, yang lebih banyak berperan di bagian produksi saja. Nah! Hompimpa Games mengajak pemain untuk merasakan bagaimana bekerja sebagai Mbok Mase dan Mas Nganten lewat board game The Art of Batik.

Dibutuhkan 2-4 pemain untuk bermain game ini, dan akan berdurasi selama 45 menit. Setiap jenis Batik ada berbagai proses pembuatan di baliknya. Pemain akan membantu Mbok Mase dalam membuat batik, dan lihat siapa pemain yang lebih berjasa dalam pembuatannya.

(disadur dari Boardgame.id)

02 Oct

Profil 24 Board Game Indonesia Yang Siap Dipamerkan Di Jerman [Bagian 2]

Oktober mendatang, kontingen Indonesia kembali berpartisipasi dalam SPIEL 2018, pameran board game paling bergengsi di Essen Jerman. Keikutsertaan Indonesia kali ini mendapat dukungan penuh dari Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) dan Asosiasi Pegiat Industri Board Game Indonesia (APIBGI).

Sebanyak 24 judul board game Indonesia telah lolos seleksi dan siap dipamerkan dalam booth Archipelageek dari kontingaen Indonesia. Berikut ini, Boardgame.id akan menyajikan seri kedua dari 12 seri artikel yang akan menjelaskan profil board game-board game karya anak bangsa yang terpilih mewakili Indonesia di Essen SPIEL 2018.

3. The Festivals

Indonesia terdiri dari ribuan pulau, di antaranya ada pulau-pulau besar seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara dan Papua. Negeri ini juga memiliki sejuta pesona. Keindahannya bisa dirasakan lewat makanan, alam, ataupun festival.

Benar! Setiap daerah di Indonesia memiliki festival unik sesuai dengan adat yang ada. Pastinya berkeliling Indonesia sudah hampir sama puasnya dengan berkelilling dunia. Kamu berkeinginan untuk terbang dari satu pulau ke pulau yang lain untuk melihat keragaman budaya di Indonesia?

Jawara BEKRAF Game Prime Awards 2017 | Foto: Isa Akbar

Gampang, jadilah traveler lewat board game The Festivals. Di dalamnya terdapat setidaknya 20 festival budaya yang hanya diselenggarakan setahun sekali. Tugas kamu dan traveler lainnya adalah berlomba untuk berusaha menyaksikan festival-festival tersebut pertama kali untuk mendapatkan pengalaman yang paling berharga.

Dimainkan dengan menyimpan tiket secara tersembunyi. Pemain yang nantinya berani bayar mahal (tiket terbanyak) boleh terbang lebih dahulu dan menonton festival yang dituju pertama kali. Game ini diterbitkan oleh Manikmaya Games pada bulan Mei 2017 dan telah mendapatkan penghargaan berupa Best Tabletop 2017 dalam BEKRAF Game Prime Awards 2017.

4. Aquatico

Menjaga ekosistem agar tetap layak huni tentu tidak mudah. Ada saja pihak-pihak yang mencari untung sendiri tanpa memperhatikan lingkungan. Terlebih lagi ekosistem perairan, lebih mudah tercemar bahkan hanya dengan limbah atau yang paling parah pencemaran oleh minyak.

Dalam Aquatico pemain ditantang untuk mengembangkan ekosistem perairan di Indoneisa sebagus yang mereka bisa. Beberapa sektor perairan yang harus dijaga antara lain Padang Lamun, Lahan Basah, Laut Dalam, Danau, Sungai, Hutan Bakau dan Terumbu Karang.

Aquatico, salah satu dari 24 board game Indonesia yang akan dipamerkan di Jerman | Foto: Aughya Shandriasti

Setiap gilirannya pemain akan mengambil kartu ekosistem dan memasangnya di area pemain dengan gaya domino (menumpuk ekosistem atau angka kartu yang sama). Hewan-hewan tertentu akan datang kepada pemain dengan ekosistem terbaik. Hewan-hewan ini yang akan menentukan siapa pemenang dari permainan Aquatico.

Saat bermain pemain bisa saja bertindak jahat dengan mencemari ekosistem lawan. Sebagai imbasnya, ekosistem miliknya tidak akan berkembang lebih baik. Pemainpun bisa memperbaiki ekosistem yang telah rusak. Tentu banyak hal yang bisa dipetik dan direnungkan setelah memainkan game terbitan Manikmaya Games ini.

(disadur dari Boardgame.id)

02 Oct

Profil 24 Board Game Indonesia Yang Siap Dipamerkan Di Jerman [Bagian 1]

Oktober mendatang, kontingen Indonesia kembali berpartisipasi dalam SPIEL 2018, pameran board game paling bergengsi di Essen Jerman. Keikutsertaan Indonesia kali ini mendapat dukungan penuh dari Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) dan Asosiasi Pegiat Industri Board Game Indonesia (APIBGI).

Sebanyak 24 judul board game Indonesia telah lolos seleksi dan siap dipamerkan dalam booth Archipelageek dari kontingaen Indonesia. Berikut ini, Boardgame.id akan menyajikan seri pertama dari 12 seri artikel yang akan menjelaskan profil board game-board game karya anak bangsa yang terpilih mewakili Indonesia di Essen SPIEL 2018.

1. Mahapatha

Mengambil sebersit kisah fiktif yang tertuang dalam buku Grumantra of Dahlhalla, di sana dijelaskan suatu proses ritual untuk belajar memanggil monster yang disebut Mahapatha. Cerita ini kemudian dikembangkan menjadi sebuah board game yang lahir di bawah kolaborasi Morfosic Studio dengan Manikmaya Games.

Miniatur | Foto: Isa R. Akbar

Mengusung gaya satu lawan banyak, maksimal empat pemain akan berpetualang menelusuri 10 skenario epik melawan monster-monster yang akan dikendalikan oleh seorang Overlord. Setiap skenario terdapat kartu peristiwa yang akan membatasi jumlah aksi pemain. Pemain akan bekerja sama, boleh saling berdiskusi dan berbagi aksi. Kemudian Overlord akan mendapatkan sejumlah aksi sebanyak yang dihabiskan pemain.

Pemain akan mendapatkan poin pengalaman yang setiap kali berhasil mengalahkan monster dan menamatkan skenario. Poin ini bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan pemain. Mahapatha disebut-sebut sebagai board game Indonesia pertama yang hadir dengan miniatur.

2. Mahardika

Membebaskan diri dari penjajahan bangsa asing tentu sangat sulit. Indonesia bahkan memerlukan waktu puluhan, bahkan ratusan tahun untuk meraih kemerdekaan. Pengalaman inilah yang akan dirasakan oleh para pemain saat memainkan Mahardika.

Mahardika sebelumnya sudah dipasarkan secara terbatas oleh Manikmaya Games pada tahun 2014. Tahun ini, Mahardika edisi kedua atau versi yang lebih disempurnakan akan hadir. Rio Fredericco, perancang Mahardika memodifikasi sedikit gameplay agar menjadi lebih seru dan lahirlah Mahardika: Merah Putih.

Edisi baru | Foto: Isa R. Akbar

Tujuan dan narasinya masih sama. Pemain bisa memerankan Sukarno, M. Hatta, Ki Hajar Dewantara, Tan Malaka, Jendral Sudirman, Sutan Syahrir dan Dr. Setidabudi untuk berusaha mengusir penjajah dan mencapai proklamasi.

Meskipun mengusung banyak kejadian-kejadian di masa lampau, pemain tidak diharuskan memahami sejarah. Justru lewat Mahardika para pemain bisa mengeksplorasi berbagai kemungkinan yang tidak tercatat dalam sejarah. Siapapun tokoh yang dipilih, mereka berkesempatan menjadi pemimpin negara. Setiap sesi Mahardika akan memancing diskusi menarik, apa yang terjadi apabila yang menjadi presiden saat itu adalah Tan Malaka?

(disadur dari Boardgame.id)

01 Oct

BEKRAF Optimis Industri Board Game Indonesia Mampu Ciptakan Pesan Positif Untuk Indonesia

Tanggerang (22/9). Sebuah pameran yang menampilkan karya-karya Pop Culture bertajuk Popcon Asia 2018 baru saja digelar di Indonesia Convention Exhibition akhir pekan lalu. Popcon Asia memang dikenal sebagai panggung acara yang mempertemukan para pengunjung dengan pelaku industri kreatif dari bidang perfilman, animasi, komik dan game.

Selama dua hari, Popcon Asia menyajikan berbagai agenda seru yang bisa disaksikan di tiga panggung berbeda. Di antaranya kamu bisa menyaksikan pertunjukan dari para cosplayer, aski menggambar dari para illustrator kenamaan, talkshow bersama kreator-kreator ternama, Popcon Awards, termasuk sesi press conference dari Asosiasi Pegiat Industri Board Game Indonesia (APIBGI) dan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF).

Suasana booth Archipelageek yang berisi 24 board game Indonesia di Popcon Asia 2018 | Foto: Aughya Shandriasti

Konferensi pers tersebut berlangsung di panggung Battle Area pada pukul 13:00 WIB. Dihadiri oleh Andre Dubari selaku ketua umum APIBGI, Agus Kristianto perwakilan Deputi IV Pemasaran BEKRAF, Direktorat Pengembangan Pasar Luar Negeri dan dimoderatori oleh Febndy Kwik founder dari Coralis Entertainment.

Sesi pers tersebut dibuka oleh moderator dengan pertanyaan mengapa “board game”? Padahal sekarang zaman sudah modern. “Justru, di tengah-tengah kemajuan teknologi di mana orang-orang selalu beraktivitas dengan gadget, board game menjadi solusi untuk menciptakan kembali interaksi dan suasana kekeluargaan.” Jawab Andre dengan tegas.

Dari kiri: Febndy Kwik (Moderator), Agus Kristianto (BEKRAF), Andre Dubari (APIBGI) saat konferensi pers di Popcon Asia 2018| Foto: Isa R. Akbar

Andre melanjutkan menjelaskan tentang awal mula menggeliatnya industri board game tertutama di Indoneisa sejak tahun 2014. Obrolan ini kemudian memantik moderator untuk kembali bertanya mengapa BEKRAF turut terjun mendukung industri ini.

“Sebagaimana tugas BEKRAF yaitu bertanggung jawab mengakselerasi pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia, dan kami (BEKRAF) melihat board game sebagai produk kreatif yang sedang bertumbuh dan potensinya layak dioptimalkan. Tidak hanya board game, BEKRAF sebelum-sebelumnya juga membantu teman-teman pengembang game digital.” Ujar Kris, panggilan akrab Kristianto menanggapi.

Perbincangan ini berlanjut pada rencana besar BEKRAF yaitu membawa board game-board game karya anak bangsa ke SPIEL 2018, ajang pameran seperti Popcon di kota Essen, Jerman. Bedanya, isi pameran ini hampir semuanya menampilkan board game dan keluarganya seperti Role-playing Game, Miniature Game, Card Game, dan Dice Game yang berlangsung di sebuah area seluas 10 kali stadion GBK.

Indonesia akan hadir di Essen SPIEL 2018 di Jerman dengan membawa 24 judul board game karya anak bangsa pada bulan Oktober mendatang. Semuanya akan dipamerkan dalam booth Archipelageek yang diusung oleh BEKRAF mewakili kontingen Indonesia yang akan bersanding dengan 50 negara lain.

“Kami juga ingin menunjukkan, ini lho Indonesia, kita juga punya board game lho!” Sahut Kris dengan semangat.

Pertumbuhan industri board game di Indonesia memang bisa dibilang terlambat dibanding negara-negara di Eropa dan Amerika. Namun, lewat seleksi yang dilaksanakan pada akhir Agustus lalu, APIBGI dan BEKRAF optimis 24 board game Indonesia yang dibawa ke Jerman adalah hasil karya terbaik negeri ini dan siap bersaing dengan negara-negara lain.

BEKRAF juga yakin, board game bisa menjadi identitas untuk Indonesia. Kris menyesali, “Banyak orang (bule) tidak tahu Kopi Gayo, Kopi Mandailing, Kopi Toraja dan lainnya itu dari Indonesia.”

Oleh karenanya, berbarengan dengan seleksi board game yang akan dibawa ke Jerman, BEKRAF pun menggelar Sayembara board game bertema Kopi Indonesia. Dengan memainkan board game bertema kopi hasil Sayembara tersebut, BEKRAF percaya nama Indonesia akan turut terangkat.

Di akhir sesi konferensi pers dalam panggung yang berbentuk menyerupai ring gulat ini Kris menambahkan board game juga berpeluang menciptakan lahan kerja baru.

“Seperti industri film, banyak pihak akan ketambahan tenaga kerja baru. Menggandeng bidang atau industri lain. Ada banyak kru yang dibutuhkan untuk membuat film. Kami menaruh harapan positif industri board game juga akan begitu, bekerja sama dengan industri lain seperti percetakan, pengrajin untuk sama-sama menumbuhkan ekonomi kreatif.” Jelas Kris sebelum akhirnya moderator menyampaikan kesimpulan dari konferensi ini.

Mari dukung selalu industri board game Indonesia dan industri-industri kreatif lain di negeri ini.

(disadur dari Boardgame.id)

27 Sep

Indonesia Select! BEKRAF & APIBGI Tunjuk 8 Board Game Indonesia Terbaik Sebagai Sorotan Utama SPIEL 2018

Para juri (dari kiri): Pak Arie, Pak Boni, Pak Sappe, Pak Wicak, Pak Galih

Sebanyak 29 judul board game Indonesia dari berbagai kreator/penerbit yang telah lolos tahap seleksi awal berkumpul di Hotel Mercure Sabang, Jakarta pada tanggal 23 Agustus lalu untuk mengikuti proses penjurian final. Penjurian ini dilakukan untuk mencari partisipan yang akan mengisi booth Indonesia di SPIEL 2018 di bawah bendera Archipelageek yang diusung Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF).

Keesokan harinya, Asosiasi Pegiat Industri Board Game Indonesia (APIBGI) mengumumkan hasil dari penjurian. Terpilihlah 25 dari 29 judul yang lolos seleksi final dan berkesempatan untuk unjuk gigi di Jerman mewakili kontingen Indonesia di SPIEL 2018.

Dengan jumlah judul yang cukup banyak, para juri yang terdiri dari Bonifasius Wahyu Pudjianto (Direktur Pengembangan Pasar Luar Negeri Deputi IV Bidang Pemasaran BEKRAF), Sappe Sirait (Direktur Pengembangan Pasar Dalam Negeri Deputi IV Bidang Pemasaran BEKRAF), Galih Aristo (APIBGI Bidang Pemasaran, Distributor dan founder Arcanum Hobbies), Arie Setiawan (APIBGI Bidang Litbang, Dosen FTI Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga), Wicak Hidayat (APIBGI, Kontingen Indonesia Essen Spiel 2014, Jurnalis); memutuskan untuk memilih 8 judul yang akan menjadi sorotan utama booth Archipelageek yang disebut Indonesia Select.

Pemilihan Indonesia Select dilakukan dengan dua metode, yaitu berdasarkan diskusi dan penilaian. Menariknya, saat kelima juri di atas memutuskan hasil dengan diskusi, secara ajaib hasilnya sama dengan hasil yang muncul berdasarkan ranking dari penilaian. Urutannya pun sama.

Nah, ini dia daftar Indonesia Select yang akan menjadi highlight Indonesia di Essen SPIEL 2018 berdasarkan total skor dari kelima juri (nilai maksimal yang bisa diberikan juri adalah 100).

 

26 Sep

Terungkap! Inilah Penampakan Para Finalis Open Call Board Game Indonesia Untuk SPIEL 2018

Jakarta (23/08). Total ada 29 judul board game Indonesia yang lolos seleksi tahap awal untuk pencarian partisipan yang akan mengisi booth Indonesia di pameran SPIEL 2018 bulan Oktober mendatang. Semua finalis kemudian diundang oleh BEKRAF dan APIBGI ke Jakarta untuk mengikuti proses penjurian final serta pembekalan.

Berhubung board game yang lolos seleksi tahap awal cukup banyak dan ruangan penjurian juga terbatas, maka penjurian dilakukan di Hotel Mercure Sabang ini dibagi dalam dua kloter. Sebelum dimulai, para penerbit atau studio memamerkan karya-karya mereka dalam meja panjang layaknya novelty show saat business day SPIEL.

Alhasil, kesemptan ini tidak akan dilewatkan oleh tim Boardgame.id untuk mengambil foto dari board game milik para finalis. Seperti yang diketahui, beberapa board game yang masuk ke fase penjurian ada yang baru dan ada juga board game yang sudah rilis tahun lalu. Langsung saja, berikut adalah daftar nama board game finalis Open Call Road to Essen 2018.

  1. Bluffing Billionaires dari Masbro Studio
  2. Stockastic dari Coralis Entertainment
  3. Flipeek: Medieval dari Coralis Entertainment
  4. Mammont’s Labyrinth dari Holzritter Studio
  5. Mahapatha dari Manikmaya Games
  6. Raja Luwak dari Morfosic Studio
  7. Varna dari Morfosic Studio
  8. Oktet dari Morfosic Studio
  9. Roket Raket dari Manikmaya Games
  10. Aquatico dari Manikmaya Games
  11. The Festivals dari Manikmaya Games
  12. Kedai Kopi dari Manikmaya Games
  13. Smong dari Manikmaya Games
  14. Mahardika: Edisi Merah Putih dari Manikmaya Games
  15. Orang Rimba dari Hompimpa Games
  16. Acaraki dari Hompimpa Games
  17. The Art of Batik dari Hompimpa Games
  18. Math Cat dari Hompimpa Games
  19. Flash Juice, Karnaval dan Ulee Karung dari Hompimpa Games
  20. Senggal Senggol gg Damai dari Hompimpa Games
  21. Ibnu Batutah dari Maen Main
  22. Waroong Wars 2nd Edition dari Tabletoys
  23. Bam-Bam Clash dari Tabletoys

Sayangnya beberapa studio menyatakan undur diri sehingga jumlah board game yang terpotret yang hadir tidak berjumlah 29. Hasil dari penjurian, manakah board game yang akhirnya akan dibawa ke Essen, Jerman mengikuti SPIEL 2018 mewakili Indonesia di bawah payung Archipelageek langsung diumumkan pada hari Jum’at, 24 Agustus 2018 seusai sesi pembekalan peserta.

Semangat! Terus harumkan Indonesia lewat board game!

(disadur dari Boardgame.id)