16 Jan

Festival Belajar Main Buktikan Game Bisa Dijadikan Alat untuk Pembelajaran

Banyak guru dan orang tua yang heran, mengapa saat belajar anak kok males-malesan dan tidak semangat namun ketika bermain mereka jadi girang dan fokus. Jadi apakah belajar semembosankan itu?

Ludenara, sebuah organisasi non-profit, punya cara untuk mengubah stigma tersebut. Kalau belajar itu membosankan bagi anak tapi tidak saat bermain, kenapa tidak membuat suasana belajar yang menyenangkan seperti waktu bermain?

Sesi talkshow | Foto: Boardgame.id

Akhir pekan kemarin, Ludenara baru saja menyelenggarakan sebuah acara bertajuk Festival Belajar Main (FBM). Acara yang ditujukan untuk guru, orang tua dan aktivis di bidang pendidikan ini rupanya berhasil menarik sekitar 80 peserta.

FBM ingin menunjukkan ternyata game bukanlah hal yang negatif dan justru bisa mendorong kegiatan belajar-mengajar menjadi lebih seru. Hal yang pertama dilakukan adalah mengajak para guru dan orang tua tersebut bermain. Hanya dengan ikut bermainlah mereka akan merasakan manfaatnya.

Galeri Resep Main | Foto: Boardgame.id


Di festival ini pula para peserta diberi resep bagaimana menjadikan game untuk pembelajaran. Acara yang terselenggara selama dua hari dari tanggal 12-13 Januari 2019 kemarin mengambil tempat di SD Gagas Ceria Bandung.

Pada hari pertama, acara dimulai dari jam 9 pagi. Peserta disajikan talkshow yang membahas apakah bermain dan belajar adalah aktivitas yang sejalan. Selanjutnya ada sesi Galeri Resep Main.

Sesi ini mengajak peserta untuk berbagi pengalaman bagaimana ia menyuntikkan game dalam sesi belajar di kelas atau di rumah. Rupanya sudah ada beberapa yang mengimplementasikan hal tersebut.

Selanjutnya ada sesi Kelas Belajar Main. Pada sesi ini para peserta menjadi murid yang belajar bermain menggunakan game-game yang sudah disiapkan panitia.

Ada dua tema besar dalam kelas ini: Kelas Sustainability dan Character Building. Kelas tersebut mengajarkan, sebuah proses yang mungkin dampaknya baru bisa dirasakan dalam jangka waktu yang lama bisa langsung tersimulasi jika lewat game.

Kelas Belajar Main: Akatara | Foto: Boardgame.id

Contohnya seperti dalam Kelas Zakuma. Jika banyak individu yang berzakat, akan lahir pula individu lain yang akan turut melakukan zakat. Efek seperti ini tentu tidak bisa dirasakan langsung di dunia nyata, tapi langsung dirasakan saat bermain game yang dikembangkan oleh Badan Amil Zakat Nasional ini (Baznas).

Selain Baznas, banyak pula organisasi yang turut berkontribusi mengisi Kelas Belajar Main. Penyuluh Antikorupsi membawa permainan Terajana untuk mengajarkan integritas dan kejujuran, lalu melawan radikalisme dengan Galaxy Obscurio yang lahir dari program Board Game for Peace besutan Peace Generation.

(disadur dari Boardgame.id: http://boardgame.id/belajar-main-untuk-pembelajaran/)